Translate

Dicurangi Sistem Olimpiade Tidak Jelas? Sudah biasa!


Halo! Gue Rin Anne Reichan, kali ini gue mau berbagi keluh kesah gua sebagai kakak, dan diri gua sendiri. Yang mana, gua cukup paham masalah sistem olimpiade dan kompetisi.

Terhitung, sejak gue SD, gue udah ikut sekitar 11 kali lomba di luar sekolah, 15 kali lomba di internal sekolah. Iya, gua baru menang sekali di tingkat DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten.

Oke, terus adik gue, dia kelas 4 SD terhitung dari TK, dia punya koleksi 4 piala mewarnai dan menggambar, 2 piala juara kelas, dan setiap tahun pasti, peringkat pertama di sekolah. Gue ngomongin track record ini nggak bermaksud sombong sama netizen kesayangan ku, gue mau jabarin secara singkat tentang adik gue dan gue.

Nah, kita berdua, menghadapi masalah yang sama. Dicurangi sistem kompetisi.

Sekarang tuh banyak orang-orang toxin yang ikut campur dalam sistem ini. Oh iya, saya mau warning aja buat oknum yang merasa, lo bakalan sakit hati baca ketikan manis ini. Karena jujur, ini ketikan gua yang nggak dibuat-buat dan gua bertanggung jawab penuh dengan artikel ini. Gue bukannya nggak mau kalah, atau adek gue nggak mau kalah, tapi gue mau paparin fakta aja yang ada di lapangan dan terjadi sama gue, dan adik gua.

Kali ini gue udah gemas banget buat bahas ini.

1. Olimpiade ke-2 di SMA buat saya...

Oke, kali ini gue bahas olimpiade sesudah OSK2018 sebelum OSK2019 bulan apa ya waktu itu. Oh, inget, 16 November 2018. Itu, gue merelakan nggak ulangan Bu Ani, padahal Bu Ani tuh nggak menerima susulan. Gue pun harus ikut olimpiade, dan hari itu harusnya ada praktek prakarya, lagi-lagi nggak ikut. PKN juga kayanya ulangan juga. Harusnya saya ulangan aja, nggak perlu saya olimpiade ekonomi hari itu.

Memori yang paling buruk saya terima di SMA. Jadi gini, kan udah dibilang pakai sistem gugur, bukan nilai gabung.

Gue masih kesal sama anak yang sekolah di sekolah yang inisialnya KK.

Gue tuh awalnya, yaudahlah, main doang, sampe BINGO. Setelah hasilnya keluar?

Seharusnya gue dan tim gue masih bisa merebutkan juara 3 lah minimal. Langkah gua dan setim gue terhenti.

Sialan? Memang, apalagi jika kamu jadi saya.

Disitu si anak KK ini, protes, "nggak bisa dong, yang harusnya anak ----- menang, jadi kalah, kan begitu," gue udah feeling kalo anak KK ini agak takut dengan gue.

Pernyataan tuh bocah gue intervensi, pake sistem yang memang udah ditetapkan, sistem gugur kan. Udah dilaksanain, emang gue juara 5 di babak itu, diambil 6 tim dong.

Kurang ajarnya anak itu apa? Dia kukuh dengan bilang nilainya semua digabung dari babak pertama. Gua marah-marah, nyindir, gue tuh orang yang kalo marah, meledaknya nangis.

Gue bukan nggak menerima kekalahan ya disini, tapi gue nggak menerima untuk dicurangi.
Bunda, inilah pentingnya berbahasa Indonesia sejak dini. Makin lama gue makin nggam betah sama cingcong itu anak, akhirnya gue ngamuk. Kursi kebanting sama gue, dan keluar pun gua jadi kurang ajar. Pintunya gue banting, kena muka salah satu panitianya. Woy, gue nggak bisa respect sama panitia, dan terutama sama si anak KK itu.

Kenapa bisa sama panitianya gue hilang respect?

Gue nilai, mereka nggak konsisten sama kerjaan mereka sendiri. Mereka mau-maunya diatur sama peserta. Padahal harusnya mereka yang atur. Berantakan event ini. Gue nggak bisa nerima. Gue walk out duluan, disusul sama guru pendamping, dan 2 tim gue.

Pas gue di bawah, mau pulang lewat Halte Benhil, gue, guru pendamping gue sama tim gue dikejar sama salah satu panitia bagian apa ya? Konsumsi sama danus? Dia minta maaf, terus nyuruh balik. Ngapain? Nyuruh gue debat sama anak KK yang nggak bisa Bahasa Indonesia? Sorry gue pribumi, pake Bahasa Indonesia, bukan pake bahasa Jaksel meski gue anak Jaksel pinggiran.

Disitu lagi, gue melakukan sedikit penghinaan. Kartu pesertanya gue banting, di depan panitianya. Jahat? Nggak ah! Yang jahat tuh anak KK yang ngecurangin berapa sekolah demi dia maju. Fyi, disitu gue dan tim kelas 11 sedangkan yang lain kelas 12. Karena dia merasa tua kali ya. Merasa dia paling bener.

Yaudah, gue naik busway. Selama di busway gue tuh udah gedek banget.

Sampai suatu ketika gue sama Dean naik Transjakarta pulang kerja jam 5, setelah satu posting meluncur, hemm... Tuh anak ada. Baru naik busway. Karena gue lewat sekolahnya.

Gue cerita sama Dean, kebetulan anaknya agak deket berdirinya sama gua. Gue kencengin volume, mungkin gua disitu nyerocos mulu. Pokoknya cuma dua halte dia turun, terus kaya nunggu lagi. Disitu rasa puas gua muncul haha. Dendam 2 mie cup super pedas yang gua makan semuanya terbalaskan.

Gua punya lagi cerita tentang dicurangin, terjadi sama adik gua. Napa orang toxic itu dimana-mana sih? Heran gua.

2. Lomba Keterampilan PAI

Tau gue tinggal di Kelurahan, Kecamatan mana kan? Kalo nggak tau, yaudah, bagus. Adik gue ini sekolah di SD negeri, portofolionya jelas diatas. Lomba ini dulu pas SD gue ikutin di Kecamatan.

Tahun ini seleksi dari Kelurahan. Di Kelurahan, fair, gue menghargai banget. Gue tau kok dari nyokap yang bilang bagaimana waktu itu lombanya. Dari peserta maupun juri, gue menghargai.

Tapi di Kecamatan, I said, no. Nih, story gue yang setelah lomba adik gue duduk aja? Gue nggak tau apa-apa. Gue pikir, oh yaudah, diambil tiga doang, adek gue nggak maju, yaudah.

Pikiran gue langsung gitu dong sebagai kakak?

Mama gue buka-bukaan di rumah. Tentang sistem yang adik gue jalanin. Woy, dia anak kecil, mereka yang lomba masih piyik, sistem kompetisi diancurin, mereka semua dicurangi!
Kenapa gue bilang gitu? Gue berani berpendapat.

Lo tau sistem gugur kaya gimana lo tau kan? Jadi ada 12 sekolah nih. Memperebutkan 4 piala eh, 4 atau 6 ya? Lupa. Normalnya gini, 12:3 atau 12:2 dulu kan. Ini nggak gitu.
Jadi dari 12 langsung comot 3 aja gitu. Benci banget gua pas tau sistemnya sebobrok ini. Adik gue di Cerdas Cermat. Ya kalo misalkan pake sistem gugur yang biasa diterapin, nggak begini caranya. 12:2 udah kan dapet 6 tim. Dibagi, 6:2 dapet 4 tim karena apa? Kan tanding 3 tim 3 tim gugur masing-masing 1 tim, jadi tinggal 4 kan? Nah, diadu tuh. Yang menang, rebutin 1-2, nah yang kalah, rebutin 3-4 kan ini baru bener kan pemirsa?
Ini mah nggak. Makanya kata nyokap adik gue keluar cepet banget. Disana itu, sampe orang pada nanyain, yang ke empat mana? Gue kalo adik gue pas lomba ada disitu, langsung gue intervensi.

Dear Bapak, semoga baca ya pak, saya kakak yang kecewa, kecewa banget. Adik saya yang dicurangi, tolong lah pak, jangan pikir semua anak SD tuh nggak punya kakak atau orang tua berpengalaman di bidang beginian. Ini kompetisi, saya juga tau bagaimana seharusnya itu berlangsung. Jangan karena bapak panitia, bapak seenaknya, ganti sistem dari sistem gugur bertahap, jadi sistem gugur langsung. Namanya sistem gugur itu bertahap pak, nggak bisa bapak ambil langsung satu babak 3 orang langsung diadu mereka bertiga, dan mereka langsung juara. Itu bukan sistem gugur yang dimaksud universal, you got it?
Saya harap, bapak ngerti cara main di kompetisi sebelum jadi penyelenggara.

Oiya. Buat semua yang mau menyelenggarakan olimpiade, tolong, kalian bikin sistem yang bener, yang jelas, konsisten. Saya nggak mau, kalo ada kecurangan, dan ketidaktepatan kaya gini lagi. Cukup korbannya saya, dan adik saya aja.

Best Regards,

Rin Ann Reichan

Langganan yuk Netizens!:

6 Responses to "Dicurangi Sistem Olimpiade Tidak Jelas? Sudah biasa!"

  1. Wah beda banget ya sistem dulu sama skrg. Smoga ke depannya sistemnya jd lbh konsissten lagi. aamiin

    BalasHapus
  2. Pedas sih kata-katanya but klu udah bahas kecurangan aku org pertama yg paling g suka. Kenapa? Karena aku menjunjung tinggi kejujuran sama keadilan.😯

    BalasHapus
  3. Aku yang baca aja ikutan geram loh rin. Kecurangan itu emang selalu ada di mana2, dalam hal apapun sih. Semoga aja kedepannya nggak ada yang kek gitu lagi. Ambil hikmahnya aja dari kejadian2 yang udah lewat

    BalasHapus
  4. Seharusnya sistem kompetisi seperti ini sudah mulai berubah ya, harus transparan dan jujur, klo ini sih pasti ada yg berkepentingan dalam lomba itu klo di daerah mah jangan tanya, udah tau yg menang pasti dia2 juga

    BalasHapus
  5. turut memprihatinkan seandainya masih ada yg seperti itu, kapan Indonesia maju, semoga ke depannya bisa lebih baik lagi

    BalasHapus
  6. Gak paham, sungguh. Di sekolahku kala MTs., SMP, dan SMU saja dalam lomba sistemnya jelas dan konsisten, gak seenak jidat. Benjolin tuh jidat toxic people-nya, he he.
    Namun kalau saya berada dalam posisi Neng Rin, sudah pasti tak akan terima. Kalau saya kalahnya karena sesuai sistem yang jelas dan standar adanya, saya terima. Namun kalau pakai acara drama kecurangan, saya tak mau terima. Mengapa? Karena kompetisi mestinya fair! Kompetisi yang pakai acara curang bukan lagi kompetisi melainkan selubung acara agar bisa meningkatkan popularitas seseorang atau pihak lain.
    Percayalah yang namanya KK itu pada akhirnya cuma berakhir sebagai pecundang. Memenangkan suatu kompetisi dengan cara yang sengaja dilegalkan padahal curang tak akan membawa ketenangan. Yang ada juga aib bagi dirinya dan kepercayaan dirinya. Apakah kapasitas dirinya memang tak lebih dari loser sepanjang jalan kenangan dan mendatang?

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel